TESTIMONIAL



Bagaikan “Mimpi” Mendampingi Para “Tamu Allah”
Oleh : Sri Wuri Handayani

Sebagai perawat yang berkarya di RS St. Elisabeth Semarang, rasanya seperti 'mimpi' bisa berkesempatan menjadi Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI). Awalnya istilah 'TKHI' tidak terlalu akrab di telinga saya. Namun, setelah mendapatkan info dari para dokter yang berasal dari instansi pemerintah, dan kebetulan ada salah satu dokter mitra RS St. Elisabeth baru saja pulang bertugas sebagai TKHI, maka akhirnya saya baru tahu tentang seluk-beluk TKHI”.

Beberapa dokter mantan TKHI telah banyak bercerita tentang pengalamannya, di saat menunaikan tugas menjadi TKHI. Susah, senang, gembira, hambatan, rintangan, dan tentang banyak hal telah di'sharing'kan kepada saya. Dari situ lah, mulai muncul ketertarikan untuk ikut bergabung sebagai TKHI, dan berupaya mencari informasi lebih banyak lagi tentang TKHI.

Tak berapa lama, informasi pendaftaran sebagai TKHI telah saya dapatkan. Proses itu dilakukan via internet, dan dengan dibantu salah satu teman kerja di IGD, saya mendapatkan nomer registrasi. Proses selanjutnya adalah melengkapi berkas dan persyaratan yang harus segera dikirim ke pusat (Kemenkes RI).

Rasa ragu pun muncul, saat membaca salah satu syarat kelengkapan administrasi untuk menjadi TKHI yaitu 'memiliki surat ijin tertulis dari pimpinan instansi'. Dalam hati muncul pertanyaan; “apakah manajemen RS St. Elisabeth mengijinkan ya...bila perawatnya ikut TKHI?”

Sungguh di luar dugaan saya, ternyata manajemen RS St. Elisabeth merespon keinginan saya dengan sangat baik. Rumah sakit mendukung dan mengijinkan saya untuk mendaftar menjadi TKHI. Ijin dan rekomendasi dari Kepala Ruang, Penanggung-jawab, Direktur Keperawatan, Direktur Personalia, Direktur Medik, Direktur Utama, Direktur Eksekutif, semuanya mendukung dan membesarkan semangat saya untuk menjadi petugas TKHI yang baik.

Untuk melengkapi persyaratan dan berkas administrasi yang se'abreg' itu pun, saya harus melalui banyak rintangan dan halangan, namun 'Syukur Alhamdulillah' semuanya dapat terlalui dengan baik. Pengumuman yang ditunggu pun akhirnya datang juga, dan lagi 'Syukur Alhamdulillah', ada nama WURI HANDAYANI tertera sebagai calon peserta latih TKHI. Maka pada bulan Juni 2011, selama kurang lebih 2 minggu, saya mengikuti pelatihan calon petugas TKHI di Donohudan Solo dan di Bapelkes Salaman Magelang. Usai ikut pelatihan, saya pun masih harus menunggu hasil dari seleksi Tim, dan sekali lagi 'Syukur Alhamdulillah' nama saya juga tercantum dalam calon petugas TKHI tahun 2011.

Senang dan bahagia yang tak bisa kulukiskan, karena mendapatkan kesempatan dan tugas baru untuk menjadi perawat di komunitas yang sama sekali belum pernah saya jalani. Tanggung-jawab dan tugas besar, akan saya emban dari awal keberangkatan dari tanah air, selama perjalanan di tanah suci selama menjalankan ibadah haji sampai pulang ke tanah air, mendampingi para “Tamu Allah”.

Berbagai kegiatan untuk mendukung pelaksanaanpun saya lalui, baik itu manasik, rapat koordinasi dengan Tim yang mendampingi kloter, juga membantu pemeriksaan para calon jemaah haji.

Saya bertugas mendampingi calon haji di kloter 17 SOC (Embarkasi Solo), bersama TPIHI (Bp. H. Niam Ansori ), TPHI ( Bp. H. Juari ), TKHI Medis (dr. Lutfi Hakim), TKHI Paramedis (Kusmanto), kami melayani sekitar 375 calon jemaah haji yang berasal dari Demak, dan selama lebih kurang 41 hari, kami selalu bersama.

Sebagai TKHI, kami harus melakukan upaya pendekatan pelayanan terhadap jemaah haji secara terus menerus, untuk melaksanaan & memberikan pelayanan serta perlindungan terhadap jemaah haji. Upaya peningkatan berbagai aspek pelayanan secara bertahap terus menerus dilakukan, sehingga kesehatan jemaah haji dapat teratasi secara dini, sehingga semuanya dapat menjalankan ibadah haji mabrur.

Lebih dari sebulan, saya dan tim melaksanakan tugas. Ada beberapa pasien yang harus diawasi karena berisiko tinggi dan harus di rujuk rumah sakit, karena penyakit yang diderita tidak bisa ditangani ditempat. Ada juga pasien yang harus melanjutkan program cuci darah seminggu tiga kali. Ada juga yang depresi, dan berbagai penyakit lainnya telah mewarnai hari-hari pelayanan sebagai TKHI. Tugasnya memang berat, tapi saya ikhlas dan mencintai pekerjaan itu, sehingga semua terasa ringan.

untuk tampilan yang optimal, gunakan resolusi 1280 x 800