TESTIMONIAL



Sabar dan Telaten Melawan STROKE
Oleh : Rm. Antonius Suparyono, Pr - Gereja Katedral Semarang

Mendengar kata stroke, raut muka romo yang satu ini terlihat antipati. Betapa tidak, penyakit itu pernah akrab dengan pergumulan hidup Romo Par, panggilan akrabnya. “Saya langsung stress, down, ketika diberitahu dokter bahwa saya terserang stroke”. Namun, apa boleh buat, Romo Paryono tidak bisa menolak dan siap menerima kenyataan.

Satu hal yang jelas selalu memberi kekuatan Romo Paryono adalah kalimat Bapa Uskup, yang setiap saat menengok selalu meninggalkan pesan “Romo yang sabar lan ditelateni mawon”. Dua kata sakti dari Bapa Uskup itu, sabar dan telaten, menjadi wasiat sekaligus mantra bagi Romo Par.

“Walaupun merasa sakit untuk berjalan, sulit bernafas, sampai pernah dibuatkan jalan nafas di leher depan, saya harus sabar dan telaten untuk menghibur diri sendiri”, ungkap Romo Par saat ditemui redaksi ElisabethNews.

Dua hal itu, sabar dan telaten menjalani, merupakan kekuatan Romo Par dalam mengakrabi stroke yang menimpanya, seiring perjalanan waktu.

“Sabar dan telaten minum obat, kontrol dokter, fisioterapi, akhirnya bisa membuat saya bisa berjalan, bisa bicara dan mempersembahkan Misa. Bahkan saya tidak tahu kapan persisnya saya mengalami kejadian yang tidak terduga itu”, demikian lanjut kisahnya.

“Sabar dan telaten” sampai sekarang menjadi pegangan dan kekuatan Rm. Antonius Suparyono Pr.

untuk tampilan yang optimal, gunakan resolusi 1280 x 800