MENGENAL
Oleh : dr. F. Soemanto,SpPD-KGEH pada 2017-09-17 22:21:42

Sindroma dispepsia adalah kumpulan keluhan atau gejala dan bukan diagnosis penyakit. Dikenal banyak gangguan di dalam atau di luar saluran cerna dengan gejala dispepsia. Berarti keluhan "sakit maag" belum tentu akibat sakit di lambung tetapi bisa juga disebabkan gangguan di luar lambung.

Pada umumnya sebutan dispepsia adalah keluhan yang disebabkan gangguan saluran cerna bagian atas baik organik ataupun fungsional (tanpa kelainan organik). Di Indonesia penyebab terbanyak adalah akibat gangguan fungsional di saluran cerna bagian atas yaitu sekitar 60-70%. kelainan organik saluran cerna bagian atas sebesar 10% dan sisanya penyakit di luar saluran cerna bagian atas.

Karena sindroma dispepsia adalah kelompok keluhan, maka setiap penderita sebaiknya menyampaikan semua keluhan yang dirasakannya kedapa dokter dengan rinci dan spesifik. Juga hal yang diduga sebagai pencetus misalnya minum obat inflamasi non steroid, obat penghilang sakit, jamu, makanan pedas, asam, alhkohol, dll.

Selanjutnya anamnesis yang tepat dan pemeriksaan fisik yang teliti oleh dokter akan sangat membantu diagnosis dan penanganan pasien selanjutnya. Pada penderita dengan gejala dan tanda fisik yang jelas biasanya dokter sudah dapat mengetahuinya penyeybab di luar saluran cerna. penyeybab yang sering keliru dianggap sebagai sakit maag adalah penyakit sistima hepatoliber (hati dan saluran empedu) dengan gejala yang tidak jelas. Untuk diagnosis perlu pemeriksaan laborat dan pencitraan (USG). Yang sering menyebabkan dispepsia adalah "sindroma kepepkaan usus" dan radang usus buntu (apendisitis). Gejala sindroma kepekaan ussu adalah keluhan nyeri perut bawah, nyeri sebeblum dan waktu buang air besar dan gangguan pola buang air besar.

 

A. Penyebab pada saluran cerna

1. Saluran cerna bagian atas ;

a. kelainan organik : gastritis, duodenitis, gastropati, obat anti inflamasi non steroid, ulkus peptik, tumor jinak/ganas

b. kelainan fungsional : gangguan motilitas, hipersensitif, intoleransi makanan, akibat obat, hormonal, dan psikogenik (stress,depresi)

2. Saluran cerna bagian bawah : sindroma kepepkaan usus, radang usus buntu

 

B. Penyebab di luar saluran cerna

a. Penyakit pada organ di abdomen : hati, sistima empedu, pankreas, dan ginjal

b. Penyakit di luar organ abdomen : jantung, paru-paru dan pleura

 

Pengelolaan dispepsia :

1. pengelolaan penderita secara pribadi, karena faktor yang berperan pada setiap pasien berbeda-beda.

2. pengelolaan tanpa obat meliputi nasehat, program diet, dan perubahan pola hidup penderita. Sebagai pedoman umum sebaiknya menghindari makanana pencetus keluhan seperti asam, pedas, dan sulit cerna. Diet harus tetap proporsional agar tidak mengganggu selera makan penderita. Penderita dianjurkan merubah pola hidup yang tidak baik seperti rokok, alkohol, makan berlebihan, kerja berlebihan,dll.

3. terapi obat, khusus bagi penderita baru dengan keluhan ringan dan usia di bawah 45 tahun, penderita dapat mencoba mengobati sendiri dengan obat bebas yang aman. Bila tidak sembuh dianjurkan tidak mengkonsumsi obat berkepanjangan karena resiko efek samping obat. Berarti penderita harus ke dokter agar dokter dapat memeriksa, menganalisa penyakit dan memberikan pengobatan yang benar sesuai dengan penyebab penyakit penderita.

 

untuk tampilan yang optimal, gunakan resolusi 1280 x 800