SEJARAH

Di Kota Semarang pada saat itu ada 2 rumah sakit yaitu Central Burgelijk Zienkenhuis (CBZ) yang merupakan rumah sakit pemerintah (sekarang RS dr.Kariadi) dan Juliana Zienkenhuis yang merupakan rumah sakit milik swasta (sekarang RS Bhakti Wira Tamtama).

Pada masa itu, kedua rumah sakit sudah tidak mampu lagi menampung orang sakit yang semakin banyak jumlahnya. lebih-lebih dengan adanya berbagai jenis wabah penyakit yang sering melanda kota Semarang dan banyak merenggut korban jiwa, maka dengan tekat bulat serta keyakinan yang kuat, para suster OSF berupaya mewujudkan cita-citanya, yaitu mendirikan sebuah rumah sakit Katholik di kota Semarang.

Demikianlah menjelang peringatan setengah abad berdirinya konggregasi suster-suster St. Fransiskus di Indonesia, para suster mengumpulkan dana dari para sosiawan, pemerintah kota praja Semarang serta dari pusat Suster-suster St. Fransiskus. Pada tanggal 3 September 1923 dana tersebut digunakan untuk membeli sebidang tanah bekas kuburan Tionghoa seluas 34.000 m2 di daerah perbukitan candi baru, dengan pemandangan yang sangat indah, suatu kawasan yang tenang.

Pembangunan gedung rumah sakit bukan tanpa kesulitan, sejak peletakan batu pertama pada tanggal 9 Maret 1926 oleh Mgr.APF Van Velsen SJ, pembangunan dilaksanakan oleh 3 kontraktor yaitu Ir.Karsten, Ir.Zoetmulder, Ir.Peters dan Ir. Keliverda. Harga bahan bangunan mengalami kenaikan luar biasa pada masa pembangunan Ir.Kersten, sehingga dibutuhkan dana tambahan yang cukup besar.

Berkat karunia Tuhan pembangunan gedung dapat selesai pada tanggal 8 Agustus 1927. Berbagai persiapan menjelang peresmian dilaksanakan antara lain dengan menempatkan 50 tempat tidur dan peralatan-peralatan lainnya.

Bertepatan dengan pesta St.Lucas sebagai pelindung profesi kedokteran tanggal 18 Oktober 1927, RS St. Elisabeth resmi dibuka oleh Mgr. Van Velsen,SJ didampingi Rm. P. Hoeberechts, SJ dan Residen Semarang Van Gulk. Pada masa pendudukan Jepang, RS St. Elisabeth diambil alih dan dijadikan kantor militer. Para suster Belanda ditawan dan 9 orang diantaranya meninggal di kamp tawanan. RS St. Elisabeth diserahkan kembali pada tanggal 1 September 1945 dalam keadaan porak poranda dan kekurangan tenaga. Menyaksikan kenyataan ini, para suster harus bekerja keras. Secara resmi pada tanggal 3 September 1945 Sr. Charitas Lammerink bersama 2 suster lainnya memulai karya rumah sakit lagi.

untuk tampilan yang optimal, gunakan resolusi 1280 x 800